Kalau suka boleh like...
afo·ris·me [inggris: aphorisms]
n Sas pernyataan yg padat dan ringkas tt sikap hidup atau kebenaran umum (spt peribahasa: alah bisa krn biasa)
Dalam kondisi tertentu saya bisa menghabiskan berjam-jam di Facebook hanya untuk menuliskan kalimat-kalimat singkat di bagian status. Dan ternyata saya menemukannya. Orang-orang sastra menyebutnya sebagai aforisme.
- Teruslah bertanya, karena untuk itulah engkau diciptakan. Tetaplah menjadi pandir, karena itulah tempat hidupmu. Teruskan pemberontakanmu, supaya semakin kuat aku mematri sangkar emasmu. Melompatlah setinggi yang engkau fantasikan, kerena akan semakin kuat kubah ini. Silahkan lari dan bersembunyilah karena aku terus memandangi tatapan matamu.
- Perlu tambahan ramuan atas kepekaan rasa. Mata memang tiba pada itu, tetapi tidak akan hati. Mulut terus bergumam tiada jelas, membingungkan orang yang sedang galau. Apa kiat guna bergiat atas kepekaan? Menyadari keangkuhan barangkali, tatkala reruntuhan panas menjatuhimu? Tunggu saja hingga engkau lemah dan seisi bumi mengejekmu pasti.
- Setidaknya pelukanmu membuatku tetap tersadar aku adalah manusia. Belaian tidak hanya kemesraan, tetapi terapi menyejukkan. Tatapan tidak hanya mengejutkan, tetapi obat sadar aku tetaplah si pandir. Perempuanku, mari terus belajar mengatasi setiap galau di depan sana. Ada air mata dalam petaka, ada sedih dalam pedih.
- Tepat sudah di ujung bab kisah ini. Sebuah permulaan baru, satu perjanjian dengan masa depan. Penjaga pintu sudah berikan obor bagi ketiadaan cahaya. “Berikan aku lentera anti-badai, obormu terlihat sudah usang,” kataku sinis.
- Merasa memiliki sepasang sayap dan telungkup di antara awan putih nan sejuk. Tanpa sadar pasir kerdil menghepaskannya ke daratan. Sakit tiada terasa, berniat menceburkan diri ke air agar bersih. Belum sempat kaki basah, tercermin wajah yang sedang menangis. Bukan itu yang dramatis, tetapi tiada remah sayap di punggung.
- Detik-detik yang masih menyisakan ruang kepada tanda tanya, mengapa keraguan masih bersembunyi dan mengintip di antara pilar tribun tua itu? Mungkinkah keimanan yang kian rabun atau menyepakati konstanta ketidakteratutan?
Indah dan pahit menghadapi dunia bisnis bersatu dalam tegangnya urat syaraf. Miniatur kehidupan barangkali. Dari situlah kita banyak belajar dan memahami kita masih lemah di banyak aspek. - Anggap saja kita masih bergulat dengan waktu mengejar ketertinggalan yang sudah kita tahu tak akan mungkin kita dapatkan. Aku ingin menyelipkan optimisme supaya simulasinya tetap terjaga. Maka kita pun secara konstan terstimulasikan.
- Kemenangan hanya hingga di tangan orang-orang yang memandang idealisme tidak hitam putih, tetapi kecerdasan yang mampu memandang konteks peristiwa secara lebih luas. Sebut itu pragmatis, di kala idealisme masih bisa diragukan. Adakah itu konsistensi barangkali.
- Sebut aku binatang, tetapi jangan tambahkan jalang. Aku binatang yang terukur dengan pola yang baik. Aku binatang yang dapat berpikir dan menuliskan ekspresiku. Aku jalang jika aku tidak ingin berpikir demikian.
- Setiap hari kita menambah satu simpul kemenangan bersama sahabat. Dan tentu di saat yang bersamaan mengurai keterpisahan dengan orang yang baru dikenal. Citra dirinya pasti dikenang dengan nilai yang tentu pahit. Namun itu bukanlah masalah jika simpul pertemanan selalu erat.
- Pernak-pernik kehidupan: manis, pahit, lalu luluh lantah. Apa lakumu manusia, yang tak pernah labil?
- Pihak siapa yang benar atau salah dan berhak menentukan menjadi satu standar tindakan adalah yang memiliki uang. Aku tidak tunduk untuk itu ketika mungkin engkau bergagenda menjebakku. Aku tidak ingin menyelamatkan diri sendiri, tapi sahabatku!
- Semua kisah berproses pada satu perjuangan hidup. Satu tiang kugenggam menunggu rapuh sembari menyelesaikan tiang yang lain. Lalu tirai baru kutebarkan di depan jendela yang baru. Aku petapa harapan, merenungkan, dan memperjuangkan yang aku yakini bersama sahabat terbaik.
- Terkadang ketakutan yang kita anggap datang dari diri sendiri sesungguhnya asalinya berasal dari luar. Orang lain mengatakan jangan, lalu kita yakin tidak melakukannya. Apa yang kaurenungkan sebagai pribadi yang hebat, bisa mengubah dunia bersama orang-orang dengan pemahaman serupa.
- Panas mentari menusuk tulang. Debu-debu jalanan Medan kian bikin usang wajah tak tampan. Senyum manis pun percuma ditebar, ketiba asap kendaraaan bermotor selimuti wajah santun. Memang kemacetan kota selalu menggoda tuk dimajaskan. Alih-alih membenci, tapi harus dilalui demi sesuap nasi.
- Siapapun menempuh hidup dengan kesusahan dan dengan semangat sepanas lava mengubahnya, ia akan sukses. Ini bukan hanya pernyataan, apalagi pertanyaan, namun kisah nyata di depan mata. Satu pengalaman yang terdalam. Vincere!
- Sesungguhnya tiada kemenangan dapat digenggam tanpa kita memecahkan dahulu selaksa bongkahan penghalang. Ia ibarat raksasa yang kita cincang menjadi remah-remah kecil yang akan dilangkahi. Itu bukanlah langkah idealis, kalau tak mau dikatakan naif, tetapi adaptif tatkala orang menilai pragmatis.
- Kelemahan ada kebaikan itu sendiri, tatkala kita menyadarinya bahwa itu adalah sebuah kemelekatan pada rohani. Bahwa kita bukanlah makhluk sempurna adalah juga kebaikan. Bijak kita melakukan sesuatu yang kita anggap benar, karena orang lain masih menyadari itu salah.
- Pada hari-hari berikutnya kemunculan syair hanya menggemakan sejumput makhluk penuh cinta. Ia memantul dalam keheningan, menyisakan pertanyaan yang tiada muncul jawabannya. Sadari, kita makhluk penanya. Dan karena itulah kita ada.
- Melalui rerumputan aku mengejek matahari, karena sesaat lagi akan digantikan bulan. Wahai, matahari laksana semangat hidup engkau tampak menghilang dan surut, tetapi tetap menyala di kehidupan esok hari. Titipkan salam kepada galaksi dan kesumpekan yang bersembunyi di balik para bintang milik dewa.
- Dalam hal-hal tertentu hardikan bisa mengubah keadaan. Aku pikir itu cara yang lebih efektif. Kalau cara lembut-lembut, esok keadaan itu muncul kembali. Kalau hanya menyindir, kabut makna justru yang hadir. Sudah biasa jadi subjek dan objek.
- Tergelak dengan tubuh yang tegak, bersama pikiran menyusuri betapa dalamnya kasih manusia ini. Haru tercipta dan meresapi perasaan. Kalbu pun mendadak mematang dan mengebulkan kejayaan.
- Langkah menuju kesucian adalah setiap saat, bukan ditentukan atau diingatkan. Tetapi tidak salah tatkala momen memandumu, setidaknya kita kian menyadari kita masih berwujud manusia, serupa ketika orang lain yang menyebutnya Tuhan menhembuskan nafas hidup dari debu. Lalu kami berderu…
- Membicarakan kecemerlangan bukanlah membicarakan objek kecemerlangan itu sendiri. Yang muncul adalah tafsiran atas kecemerlangan, upaya representasi, imaji-imaji, simbol-simbol tahyul. Seharian kita membicarakan itu, hingga seseorang menghardik kenyamanan, “Kecemerlanganku lebih nyata daripada kenyataan yang kautafsirkan.”
- Mengeluh itu biasa, tetapi jangan mendominasi hati dan pikiran. Anggap saja curahan hati demi meringankan beban. Tiada sesal untuk itu semua, supaya semangat membara. Aku adalah tombak untuk pertempuran hidup, menusukkan ke relung terdalam sang beban berat.
- Hidup adalah soal mengisi kesempatan demi penebusan atas kesalahan. Jadi, kita memiliki tujuan untuk dikejar, memperbaiki, dan memeliharanya. Kegagalan atas kepastian yang justru membuat kita belajar.
- Kejatuhan ada keniscayaan yang justru membuat kita tetap tegar berdiri. Kita adalah laskar kehidupan kita sendiri dan m…enjadi anak panah harapan. Jangan menyerah itu benar!
- Perilaku yang benar adalah versimu seorang. Sesulit itukah mengembalikan hartaku yang berharga itu? Ya, engkau merasa berhak menahan sesuatu, karena keinginan pribadimu tidak terpenuhi. Aku tidak pernah mengumbar janji, tapi mengingatkan bahwa kemampuanmu sendiri adalah hasil dari segalanya. Bantuanku tidaklah penting, hanya menambah daftar dosaku.
- Kita selalu menghampiri masa-masa kritis. Nafas terputus-putus, seperti hendak kehilangan udara di dalam paru-paru. Lalu, para sahabat menawarkan udara cadangan ditambah cairan pelepas dahaga. Sejatinya bermain sendiri, sama kiranya menawarkan diri terhadap kesenyapan. Itu menjadi tegas ketika kita kesulitan menempuh jalan berlubang, lalu terjatuh.
- Seseorang yang kita anggap cerdas, ahli, jujur, dan bersahabat terkadang di baliknya tersimpan duri yang maha tajam. Tatkala kita senang berada dalam anggapan kita tersebut, durinya siap menyakiti. Tanpa sebab ia lari dan berbicara dalam kebisuannya. Sahabat, engkau menambah ketidakpastian.
- Ekspektasi yang terlampau besar terhadap seseorang yang mampu menjanjikan lentera, terkadang melahirkan kekecewaan. Segala upaya pendekatan dilakukan, tetapi hasilnya nihil. Parahnya, hanya berbeda tipis dari tujuan semula. Kemudian ia berbalik kanan, berjalan, tanpa menoleh. Kabarpun tiada, sembari membawa hartaku yang terpenting.
- Saya tahu Anda dari dua orang sahabat saya mengenai intelektualitas dan idealisme Anda. Sahabat orang itu berucap, “Dia itu mengagumi engkau.” Terkadang kita terlalu polos meyakini seseorang hanya dari ucapan seseorang yang tidak mendalami pribadi seseorang. Meski terkadang salah, dia selalu beranggap benar.
- Manusia hidup dengan idealismenya masing-masing. Apa yang ia anggap benar, bisa jadi salah di mata orang lain. Ambeg Parama Arta, demikian bahasa Sansekerta Jawa. Maknanya, mampu melakukan apa yang seseorang anggap benar. Bukanlah kesalahan terkadang dipandang salah karena belum saatnya menjadi benar.
- Kemanapun manusia pergi, bayangan perang akan selalu mendekat. Dengan ketulusan memandang perbedaan dan keinginan berdamai hati, eskalasi dan dampak perang dapat diperkecil. Demi kemanusiaan dan keluhuran Maha Pencipta. Demi perdamaian dan masa depan Indonesia.
- Jangan salahkan orang lain jika hidupmu sengsara. Refleksikan ke hati barangkali kita sendiri yang membuat itu terjadi. Tetapi hati-hati pengucap kalimat pertama mengerti sekali makna itu untuk bersembunyi dari kesalahannya sebagai penyebab kesengsaraan orang lain, termasuk sahabat. Satu senjata untuk dua kepentingan.
- Dalam hidup berlakulah dua makna ini: Jikalau rasa hidup terlalu manis, janganlah engkau langsung telan. Sebaliknya jika rasa hidup sangat pahit, usah engkau langsung buang. Hidup enak bisa berlalu begitu saja seiring cara hidup yang tidak bijak. Atau tawaran hidup enak bisa jadi jebakan. Dan hidup juga seperti obat. Ia pahit dan terlihat menyesengsarakan, tetapi di akhirnya berbuah kenikmatan.
- Ketulusan mencintai seseorang bukanlah kepolosan menghadapi hidup di dunia fana, tetapi kesungguhan saling menerima kelebihan dan kekurangan kekasih. Kepada kekasihku aku selalu berkenan. Kepadanya rasa sayang ini tidak akan berkurang.
- Kecerdasan jelas adalah kelebihan, tetapi ia akan menjadi bumerang tatkala seseorang yang berniat buruk menipunya dan menjadikannya sebuah keangkuhan.
- Mencoba menafsirkan kembali konstanta bahasa. Ia tidak sepenuhnya absolut sebagaimana yang tersuratkan dalam kitab-kitab yang kita anggap suci. Bahasa dan subjektif pada dirinya sendiri, karena itu ia mampu menjadi alat kekuasaan. Jika kita menganggap dunia ini berubah, maka demikianlah bahasa itu karena ia hanya ditafsirkan pada konteks sejarah yang berbeda.
- Apa gurauku nanti kepada Santo Petrus di gerbang akhirat, tatkala ia barangkali sedang mengantuk dan kunci surga yang dipegangnya terjatuh?
- Jangan serahkan dirimu sepenuhnya kepada entitas abadi yang selama engkau yakini benar. Benar bukan buatan ia secara total, tetapi manusia sendiri melalui beragam penafsiran dan berlapis kepentingan. Selalu imbangi dengan gagasan diri sendiri dan kelompokmu yang seragam tanpa menyakiti orang lain. Bukankah Sang Ia menghargai keadian pribadi ciptaannya?
- Inilah yang kusuka darimu selain gaya rambut anyarmu itu: Hangat dalam bahasa dan dingin dalam percintaan dini, memujiku dengan kelemahanku dan mengejekku dengan sepenuh hati, memandangku tanpa atribut kehormatan dan mengintipku dari tribun hatimu yang tidak polos, kau berikan keterkejutan dengan bahasa birahi dan kau akhiri dengan penolakan yang membuatku semakin penasaran.
- Malam ini marilah bercakap dengan: angin agar kau tahu betapa bebas iya kesana kemari, bulan sabit berwarna emas agar kau tahu langit jadi indah, gemericik hujan yang lembut memecah tanah agar mengimbangi harmonisnya nada jiwa. Aku bertanya pada mereka, “Maukah kalian memberiku suasana seperti ini setiap malam?” Mereka bilang, “Tentu, jika engkau menggandeng bungamu.”
- Seperti diringi musik pembuka opera, pelukan pertama rasanya seperti memasuki ruang baru kehidupan yang menyenangkan. Semakin lama ia membosankan seperti membuka kotak hitam berisi kemunafikan, kebutaan hati, nafsu birahi, dan utamanya penderitaan atas pengkhianatan. Maka, sambutlah cinta dengan segala konsekuensinya.
- “Aku sedang memandang cinta manusia dan kaubuat bias di antara mataku. Lekas menyingkir,” kata bulan geram. “Aku memang sengaja. Tetapi, itu lebih baik daripada engkau seperti aku sekarang. Aku dulu seperti engkau, aku mengutus angin ketika manusia bercumbu dan mendaulat bintang memeriahkan hari-hari ceria mereka. Mereka pun mengacuhkanku. Semuanya berawal dari pandangan seperti kau sekarang,” ujar awan.
- Tengoklah ke hati yang paling dangkal itu, kutip keratan kasih yang masih tersisa lalu bersihkan dengan ciuman dari bibirmu yang suci itu. Aku berjanji aku hanya diam dan menatapmu dari kejauhan ketika engkau melakukan itu. Aku tahu engkau ingin bersamaku malam ini, tetapi bukan lagi jarak dan ruang yang memisahkan kita, tetapi semakin berkurangnya ketebalan kantong celanaku ini.
- Kalaulah masa depan tidak pernah ada dan waktu adalah ilusi semata, bilakah manusia menggenapkan apa yang dipikirkannya tentang kehidupan sempurna itu? Mungkin Tuhan terlalu pintar untuk kita bantah mampu menyatukan dua insan yang berbeda ini. Tuhan aku hanya memerlukan dua masa lalu, yaitu masa aku dilahirkan dan masa satu detik yang lalu sebagai cermin untuk masa depan yang mungkin tidak ada itu.
- Inilah yang kusuka darimu selain gaya rambut anyarmu itu: Hangat dalam bahasa dan dingin dalam percintaan dini, memujiku dengan kelemahanku dan mengejekku dengan sepenuh hati, memandangku tanpa atribut kehormatan dan mengintipku dari tribun hatimu yang tidak polos, kau berikan keterkejutan dengan bahasa birahi dan kau akhiri dengan penolakan yang membuatku semakin penasaran.
- Entahlah, aku juga masih hanyut dalam kebingungan mengapa kita harus memahami maka kata “puisi” itu sendiri. Yang aku tahu aku semakin kental dalam kata-kata dan tidak memprotes diriku mengapa aku tidak bercakap-cakap layaknya manusia normal. Aku menuntun, bukan menuntut jemariku ini supaya tetap berdansa di atas kibor sembari menjaga pijarannya tidak meredup.
- Belum sempat aku memulihkan darmaku kepada keesaan sang Ego, tiba-tiba saja keningmu memantulkan cahaya kebenaran bahwa kecantikanmu tidak setara dengan dewi-dewi galaksi yang pernah aku temui sebelumnya. Tetapi, setidaknya pilihanmu meniadakan gaya ponimu adalah juga pilihanku untuk selalu menggodamu.
- Rasanya seperti mengulur benang panjang untuk layang-layang. Ternyata angin pria itu terlalu kuat menarikmu ke angkasa, sementara benangku kian pendek untuk menarikmu. Haruskah aku kuletakkan bokongku di rumput hijau ini dan menantikanmu jatuh dari dari langit? Atau aku harus menggantikan sayap rusakku dengan layang-layang lalu aku terbang mengejarmu?
Kalau suka boleh like...
Teraktual
- Menyoal Pendidikan Jurnalisme Multimedia
- Mengapa Wartawan Harus Mati
- Learn From The Master
- “Sahabat Segala Makhluk”
- Tafsir atas Tafsir
- Yasalunaka, Mereka bertanya Kepadamu
- Di Bawah Lindungan CDMA EV-DO
- Menanti Gubsu Peduli Pendidikan
- Menciptakan Manusia Kesalahan Tuhan?
- Sistem Cetak Digital, Dari Kertas Sampai Kaos
Beli Sekarang di Amazon



