Kalau suka boleh like...

Seorang sahabat bertanya. Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya cenderung rumit, “Kalau sampai hari ini abang tidak bertemu dengan pacar abang sekarang, apakah abang tetap bersikukuh menikah?” Kujawab dengan mantap, “Ya, pasti!” Tanpa menunggu sahabat mengajukan kenapa, lalu kutambahkan, “Ini tentang tantangan baru dalam hidup tentang membuat anak dan membesarkannya.” Sahabat itu langsung terkekeh.

Empat belas tahun lalu topik itu lebih tentang pernyataan yang lemah argumennya, “Aku ingin hidup selibat dengan cara menjadi pastor. Selepas dari sekolah menengah atas pokoknya aku ingin sekolah di seminari!” Meskipun mirip sebuah nazar, pernyataan itu bukan karena kerinduan lebih mencintai Tuhan atau ingin hidup asketik. Latarnya sepele: cinta ditolak adik kelas. Tiga kali! Kalau menjadi kenyataan hidup menjadi pastor tentu motifnya sangat aneh. Menjadi pastor hanya sebagai kendaraan melarikan diri dari kenyataan hidup dan menjawab tantangan dengan mundur seribu langkah. Tapi karena itu cara berpikir 14 tahun lalu, setidaknya dapat dimaklumi. Lagipula kalaupun sekarang profesinya sebagai seorang pastor, dijamin saya tidak tahan untuk segera menikah. Panggilan raga, syahwat terlalu dahsyat untuk ditolak. Hipokrit kita kalau tidak mengatakan itu, walaupun itu bisa dijawab anak SD zaman sekarang.

Beberapa minggu lalu di satu kesempatan di gereja seorang mantan pastor yang bersuku Jawa berterus terang ingin menikah, karena ingin mendapatkan keturunan. Yang cukup mengejutkan istrinya sekarang ternyata adalah seorang mantan suster, adik dari koleganya yang juga seorang pastor. Tidak jelas mengapa ia dulu memilih sebelumnya hidup selibat, lalu melanggar sumpah imamnya di hadapan uskup. Kini rutinitasnya lebih banyak dihabiskan dengan mengajar filsafat di berbagai perguruan tinggi di Medan. Sepertinya hidupnya bahagia, tercermin dari beberapa kisah nyata kehidupan pribadi dan teman-temannya yang jenaka. Penuh warna dan siratan makna.

Sekali peristiwa, seorang ibu yang saya kenal dua bulan belakangan ini bercerita tentang beberapa pastor yang hidupnya merana setelah melanggar janjinya sebagai seorang imam. Kebetulan ibu ini adalah seorang guru agama (katekis) yang dipercaya pihak gereja mengajar tentang kekatolikan. Dengan mengusung gelar “mantan pastor” kata ibu itu, pekerjaannya kian tak jelas dengan memelihara seorang istri dan 2 orang anak. “Ada kok mantan pastor yang jadi supir taksi,” kata ibu itu.

Dari pernyataan itu saya kejar dengan pertanyaan menukik, “Lha, kalau pastor diizinkan keluar dari janjinya di hadapan Tuhan, mengapa Paus melarang pasangan suami istri Katolik bercerai. Bukankah ikatan pernikahan dirajut dengan sebuah janji? Itu kan namanya tidak adil.” Dengan berbagai argumen yang sedikit berputar-putar, sang ibu menjelaskan. Saya kejar dua kali dengan pertanyaan dan fakta tambahan, dengan maksud menegaskan konsep. Jawabannya kian tak jelas.

Terakhir tatkala pengalaman itu saya tuturkan di Facebook, malah direspons seorang sahabat dengan jawaban dengan jawaban paling masuk akal, “Hidup di dunia ini kan memang tidak pernah adil, ada yang miskin ada pula yang kaya.” Dia benar. Tetapi itu saya tuturkan dengan menempatkannya ke dalam satu konteks yang sangat koheren, yang berangkat dari satu fakta: Seorang suami yang telah lama tidak menafkahi istri dan anak-anaknya dengan layak. Si suami juga terkenal gemar main mata dengan wanita lain, alias bandit kelamin. Itu terjadi bertahun-tahun. Tentu si istri layak makan hati. Adalah hak seorang manusia mencari peluang kebahagiaan berkeluarga dengan orang lain, kalau menemui kenyataan demikian.

Bagi saya nazar menjadi imam dan ikatan pernikahan memiliki posisi yang setara, sama-sama bersumpah kepada Bapa di surga dan tidak melanggarnya. Tetapi bagi Vatikan itu berbeda dan memberi kelonggaran terhadap pastor. Jawaban rasionalnya sama seperti yang melekat pada peran seorang pemimpin. Mengingat pastor (gembala) adalah figur publik, maka karakter dan tingkah polahnya akan berpengaruh kepada umat. Iman seorang imam yang kurang mantap, membuat umat menjadi bingung. Seorang pastor yang berkehendak duniawi memiliki dampak lebih luas jikalau dibandingkan dengan relasi suami istri yang habitatnya sangat sekular. Dengan pertimbangan itu Vatikan mengizinkan pastor “bercerai” dengan sumpahnya, meskipun tidak mudah.

Harus diakui manusia tidak akan pernah bisa menjalankan agama secara sempurna. Sempurna hanyalah gagasan, konsep, dan ideal pemikiran manusia melihat peristiwa di sekitarnya. Dan ketidaksempurnaan dan ketidakadilan adalah pula gagasan yang tidak serta merta dapat diwujudkan. Namun, dalam sejarah manusia kritik terhadap sesuatu yang ajeg kerap melahirkan konflik yang pada akhirnya memproduksi entitas baru yang juga seideal yang diharapkan. Tetapi, dari sini yang dipetik adalah nilai perjuangan mewujudkan gagasan yang tidak sempurna itu.

Demikian pula pernikahan adalah perjuangan terhadap pemupukan kebahagiaan di antara kesengsaraan yang pasti dihadapi. Keputusan menikah adalah keputusan menghadapi lansung tantangan hidup yang tidak virtual. Di lapangan perang itu pasangan menikah adalah laskar sekaligus jenderal untuk mengalahkan sejumlah musuh yang menghadang. Kuncinya adalah kerjasama dan komunikasi yang melahirkan kesamaan pemikiran dan koridor hidup. Bagi yang tidak siap menikah, mungkin adalah manusia yang tidak siap menghadapi hidup fana yang sesungguhnya. Mungkin.

Yasalunaka. Mereka bertanya kepadamu.

Kalau suka boleh like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

787 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>